Kalau masalah ledak-meledakkan bagi enginer
ataupun mahasiswa pertambangan merupakan makanan sehari-hari. Pada waktu kuliah
ada mata kuliah Teknik Peledakan 2 SKS. Lalu juga diadakan Kursus Juru
Ledak(KJL) Kelas 2, yang biasa diadakan oleh Permata Unsri (Persatuan Mahasiswa
Pertambangan Unsri). Yang biasanya dilakukan praktek peledakan di tambang
batubara Bukit Asam atau di Bukit Kendi.
Dulu sewaktu saya kuliah, kebetulan saya tugas akhirnya
mengenai peledakan. Saya melakukan penelitian mengenai penggunaan waktu delay
pada peledakan tambang emas grasberg, PT Freeport Indonesia. Waktu itu di
tambang emas grasberg baru saja akan diterapkan teknologi peledakan terbaru,
yaitu penggunaan detonator elektronik/digital, yang dikenal dengan sebutan
i-kon detonator, yang diproduksi oleh perusahaan Orica. Salah satu keutamaan dari
i-kon detonator tersebut adalah kemudahan dalam mengatur waktu delay.
Di tambang emas grasberg, batuan dibor dengan diameter 12
inch, kedalaman 17 meter, lalu dimasukkan bahan peledak ANFO (Amonium Nitrat
Fuel Oil), atau powergel sebanyak sekitar 500-900 kg perlubang. Kalau sekali
diledakkan ada 200 lubang, berarti sekali peledakan ada 150 ton bahan peledak
yang diledakkan, bayangin gimana besarnya ledakan yang dihasilkan, dalam sehari
ada sampai 5 area yang diledakkan.
Apa sih waktu delay itu?dari tadi disebut-sebut terus.
Waktu delay artinya waktu tunda, maksudnya begini. Ketika batuan diledakkan,
maka lubang-lubang yang diisi bahan peledak tidak meledak secara serentak,
tetapi berurutan, jeda waktu meledak satu lubang dengan lubang yang lain itulah
yang disebut waktu delay.
Kata beberapa ahli peledakan selain geometri peledakan
(burden, spacing, stemming, subdrilling), waktu delay ini juga mempengaruhi
ukuran fragmentasi batuan (pecahan batuan hasil peledakan). Sebagai info :
ukuran fragmentasi batuan ini sangat mempengaruhi produktifitas pertambangan.
Karena kalau ukuran fragmentasi besar, gak bisa dimuat oleh buket shovel, perlu
di diledakan sekali lagi(secondary blasting), hal ini mengakibatkan waktu dan
biaya yang tebuang-buang.
Selain mempengaruhi fragmentasi, waktu delay juga berguna
untuk mengurangi ground vibration, mengatur arah lemparan batuan hasil
peledakan, wall control.
Bagaimana dengan peledakan di tambang bawah tanah
(underground)? Peledakan di underground tidak sebesar di tambang permukaan. Di
underground kalau untuk membuat terowongan biasanya lubang dibor dengan
diameter antara 48-76 mm, dengan kedalaman lubang 3-4 m. Satu lagi yang penting
dalam peledakan di underground, yaitu masalah freeface. kalau di surface kita
sudah ada 2 atau 3 bidang bebas(freeface) tetapi kalau di underground cuma ada
1, sedangkan syarat peledakan yang bagus minimal ada 2 freeface. Maka untuk itu
perlu dibuat dulu freeface, caranya dengan membuat cut, dimana pada cut dibuat
lubang-lubang yang kosong, tidak diisi explosive(bahan peledak) yang akan
berperan sebagai freeface.
Muantep Pak Dosen.......:)
BalasHapus