Ini adalah postingan dimana saya lagi semangat-semangatnya menulis di blog, setelah vakum kurang lebih 2 tahun. Saya vakum disebabkan beberapa alasan. Salah satunya adalah karena ketidaktahuan dan kekurangmampuan dalam menulis. Apalagi menulis di blog.
Nah, sekarang saya mencoba iseng lagi belajar tentang blog melalui youtube dan blog teman-teman yang sudah saya anggap ahli.
Oke!!!
Dalam kesempatan kali ini, saya tertarik membahas soal fenomena yang terjadi di lingkungan saya bekerja dan berdomisili, tepatnya di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dengan letak geografis 0° 40' 40.16" S, 100° 47' 13.21" E.
Kenapa saya mencantumkan koordinat geografis?? Karena saya takut teman-teman bakal tersesat ketika menelusuri kota ini melalui Google Map. Hehehe. Sebenarnya bukan itu tujuan saya, cuma karena saya kebetulan mengajar pada mata kuliah Survey Pemetaan. Jadi memang tidak asing lagi dengan yang namanya koordinat geografis dan semacamnya.
Baiklah, sepertinya sudah terlalu panjang mukadimah dan basa-basinya.
Pada zaman sekarang ini memang perkembangan teknologi sudah begitu pesatnya. Dan hal itu seperti tidak bisa dibendung. Salah satunya fenomena yang saya lihat yakni "sepeda berasap" siswa SMP. Ya, hal ini sangat menjadi perhatian bagi saya, karena saya melihat terutama di Sawahlunto, siswa begitu bebasnya berkeliaran dengan "sepeda berasap"nya. Maaf saya menyebutnya dengan sepeda berasap karena pada zaman saya, pada masa SMP saya masih menggunakan sepeda konvensional dan tidak berasap. Tetapi pada zaman sekarang, jika kita pergi ke suatu sekolah pada jam pelajaran, kita akan dihadapkan dengan jejeran motor berbagai merk yang terparkir penuh sesak di halaman sekolah.
Bagi saya, hal ini cukup aneh. Siswa SMP yang notabene-nya masih di bawah 17 tahun, pastinya belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Saya sangat prihatin dengan fenomena ini. Kenapa bisa siswa SMP yang masih dalam masa labil, dibiarkan dengan bebas berkendara kesana-kemari oleh orangtuanya dan bahkan dibolehkan untuk pergi ke sekolah. Ya namanya juga masih labil, pastinya mereka kebanyakan berkendara dengan seenaknya, menarik perhatian temannya, tanpa mempedulikan keselamatan orang lain dan dirinya sendiri.
Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah orangtua mereka tidak menyadari bahaya yang mengintai anak-anak mereka jika dibiarkan mengemudikan kendaraan di usia yang masih labil. Sudah banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kematian. Salah satu contohnya mungkin kasus Dul, putra musisi terkenal Ahmad Dani. Tetapi kenapa para orangtua masih saja melepas anak-anaknya pergi ke sekolah menggunakan motor? Beberapa alasan klasik yang saya temui di lapangan yaitu mereka tidak ada waktu untuk mengantar anaknya serta sulitnya akses kendaraan umum, sehingga anaknya bisa telat datang ke sekolah. Dan solusinya, mereka membelikan anaknya sepeda motor untuk pergi ke sekolah. Sungguh satu alasan yang ironis menurut saya.
Apakah sudah sedemikian sibukkah para orangtua ini, sehingga tidak memiliki waktu untuk mengantarkan anaknya sendiri. Malah mereka mencari solusi yang justru membahayakan bagi anak-anak mereka.
Demikianlah fenomena yang saya lihat pada saat sekarang ini. Semoga menjadi perhatian kita semua. Baik itu pemerintah, polisi, guru, dan terutama para orangtua.